Agama Islam dalam Perkembangan Anak Usia Dini

Agama Islam dalam Perkembangan Anak Usia Dini

Agama Islam dalam Perkembangan Anak Usia Dini

Agama Islam dalam Perkembangan Anak Usia Dini
Agama Islam dalam Perkembangan Anak Usia Dini

  Pendidikan Agama Islam dalam Perkembangan Anak Usia Dini

  1. Implementasi Pendidikan Agama Islam dalam Perkembangan Anak Usia Dini

         Menurut Ernest Harms, penerapan Pendidikan Agama Islam dalam perkembangan Anak Usia Dini dapat dilaksanakan melalui beberapa fase atau tingkatan, yaitu:

  1. The Fairy Tale Stage(Tingkat Dongeng)

       Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada tingkatan ini, konsep agama mengenai Tuhan misalnya, lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga ia dapat menggapai agama tetapi masih menggunakan konsep fantastik yang diliputi oleh dongeng-dongeng.

  1. The Realistic Stage(Tingkat Kenyataan)

       Tingkatan ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar hingga ke usia adolensen. Pada masa ini, ide Ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan realitas atau kenyataan. Konsep ini timbul dari lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini, ide keagamaan anak dapat didasarkan atas dorongan emosional hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu, maka pada masa ini mereka tertarik dan senang pada lembaga yang mereka lihat dikelola oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka. Segala bentuk tindakan keagamaan mereka ikuti dan pelajari dengan minat.

  1. The Individual Stage (Tingkat Individu)

       Pada tingkat ini, anak mempunyai kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka, konsep keagamaan yang individualis ini terbagi menjadi tiga golongan, yaitu:[15]

1)  Konsep Ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut dipengaruhi oleh pengaruh luar.

2)      Konsep Ketuhanan yang lebih murni dan dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal.

3)   Konsep Ketuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama.[16]

         Jadi, perubahan setiap tingkatan ini dipengaruhi oleh faktor intern, yaitu perkembangan usia dan faktor ekstern berupa pengaruh luar yang dialaminya. Dapat disimpulkan pula, bahwa penerapan Pendidikan Agama Islam dalam usia 3-6 tahun dapat dilakukan dengan cara memberikan dongeng-dongeng keagamaan, pada usia adolensen dengan cara mendirikan lembaga-lembaga bimbingan belajar agama dan di usia menuju dewasa, anak dapat menghayati agama dengan sendirinya berdasarkan ajaran-ajaran agama yang telah diterimanya.

Sumber : https://tribunbatam.co.id/photo-touch-art-pro-apk/