Bentuk-Bentuk Pronomina Persona

Bentuk-Bentuk Pronomina Persona

Bentuk-Bentuk Pronomina Persona

Bentuk-Bentuk Pronomina Persona

PP BMk dibedakan ke dalam PP I, PP II, dan PP III

Di antara pronomina itu ada yang mengacu ke jumlah satu dan ke jumlah lebih dari satu. Ada bentuk yang bersifat eksklusif, ada yang bersifat inklusif, dan ada yang bersifat netral.


Di antara pronomina itu, ada yang bentuk penuh dan bentuk singkat. PP bentuk penuh maksudnya pronomina tersebut dapat berdiri sendiri dan tidak terikat kepada bentuk lain. PP bentuk singkat maksudnya pronomina tersebut terikat kepada bentuk lain dan juga dapat berdiri sendiri. Bentuk singkat yang selalu terikat kepada bentuk lain dipakai secara proklitis dan enklitis. Bentuk singkat yang dapat berdiri sendiri tidak terikat kepada bentuk lain. Dengan kata lain, bentuk singkat yang dapat berdiri sendiri itu hampir menyerupai bentuk penuh.


PP I pada bagan di atas memiliki bentuk yang berbeda. Perbedaan bentuk di sini berguna untuk pemakaian dalam kehidupan sehari-hari.Di samping itu, ada satu bentuk PP I yang memiliki penekanan pada diri sendiri / refleksif. Bentuk tersebut adalah awakden. Bentuk awakden berasal dari awak + aden à ‘saya + saya =’ saya sendiri’. Jadi bentuk awakden berasal dari penambahan awak dan aden dengan lesapnya fonem vokal /a/ pada pronomina aden, contoh.


  • Awakden taragak nak pulang ka ranah kampuang Tibarau (UM,95)

‘Saya sendiri rindu akan pulang ke kampung Tibarau’

  • Andi awakden ka pai lai

‘Andi, saya sendiri akan pergi lagi’


Di samping PP I bentuk penuh dalam BMk ,terdapat PP I bentuk singkat. Bentuk singkat ini ada yang dapat berdiri sendiri dan ada yang terikat kepada bentuk lain dipakai secara proklitis dan enklitis, contoh,

  • Waden indak katuju jo calon lakikau

‘saya tidak setuju dengan calon suamimu’

  • 4. Indak takao dek den mambali baju tu.

‘ saya tidak sanggup membeli baju itu’.’


Bentuk waden berdiri sendiri dalam kalimat tidak terikat kepada bentuk lain. Artinya, bentuk waden tidak dipakai secara proklitis dan enklitis,. Akan tetapi, bentuk den dapat berdiri sendiri dan terikat kepada bentuk lain. Bentuk denyang dapat berdiri sendiri biasanya di dahului oleh preposisi; di, ka, dari pado, inggo, dan jo, sedangkan bentuk den yang terikat kepada bentuk lain dipakai secara proklitis dan enklitis.


Perbedaan PP I bentuk jamak inklusif kito dengan awak yaitu dari segi penggunaan. Maksudnya, PP I awak ‘kita’ digunakan apabila pembicara menjalin hubungan afektif atau keakraban khusus dengan lawan berbicara, sedangkan PP I kito ‘kita’ dalam penggunaannya tidaklah diperlukan keakraban khusus dengan lawan berbicara.


PP II pada bagan di atas terdiri dari empat bentuk penuh tunggal , lima bentuk singkat tunggal, dan dua bentuk jamak yang bersifat netral. Bentuk-bentuk tersebut apabila di tinjau dari segi makna dapat dikelompokan atas PP II yang bermakna laki-laki dan PP II yang bermakna perempuan. Bentuk PP II yang bermakna laki-laki yaitu; awakang, angku, waang, dan ang ‘kamu laki-laki’dan PP II yang bermakna perempuan yaitu; awakkau, wakau, akau, dan kau ‘kamu perempuan’.


Baca Juga :