Bimbel Tak Jamin Dapat Luluskan Calon Siswa

Bimbel Tak Jamin Dapat Luluskan Calon Siswa

Bimbel Tak Jamin Dapat Luluskan Calon Siswa

Bimbel Tak Jamin Dapat Luluskan Calon Siswa
Bimbel Tak Jamin Dapat Luluskan Calon Siswa

Bimbingan belajar (bimbil) tidak bisa menjamin calon siswa mendapat kelulusan

atau diterima di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Meski demikian, bimbel dinilai sebagai sarana penambah wawasan bagi peserta didik.

Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Nurul Awalin mengatakan, tempat bimbel memang punya peranan yang positif. Karena anak akan mendapat pengetahuan dan wawasan di luar sekolah. “Positifnya ya memberikan tambahan ilmu pengetahuan,” ungkapnya kepada Radar Tasikmlaya (Jawa Pos Group), kemarin (21/7).

Tapi hal tersebut bukan menjadi sebuah kewajiban untuk pelajar baik

yang ingin lulus maupun lolos masuk ke perguruan tinggi. Karena diketahui biayanya cukup mahal bahkan bisa melebihi pembayaran di sekolah. “Jangan dianggap keharusan, apalagi biayanya lumayan mahal kan,” terangnya.

Menurutnya, penyelenggara bimbel tidak ditangani oleh pemerintah daerah tetapi langsung dari pusat. Maka dari itu, DPRD maupun pemkot tidak bisa mengeluarkan aturan untuk memberikan batasan. “Kalau saja dinaungi Pemkot, bisa langsung kita bikin perdanya, kalau perlu supaya cepat bikin perwalkot langsung,” katanya.

Hal sama juga dikatakan, Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya Muslim

yang meminta masyarakat tidak berpikir bahwa bimbel atau kursus adalah sebuah hal yang wajib diikuti. “Kalau memang berat, ya jangan memaksakan,” katanya.

Meskipun peranannya positif dalam memberikan pendidikan, namun tidak menjamin kelulusan atau diterima di perguruan tinggi. Pasalnya, hal itu kembali lagi kepada tingkat kecerdasan dan kreativitas peserta didik. “Ikut bimbel juga bisa saja tidak lulus dan kalah dengan yang tidak ikut bimbel, tergantung anaknya bagaimana,” pungkasnya.

Sementara itu, tidak sedikit orangtua murid yang justru merasa terbebani ketika hal ini justru seolah menjadi prioritas putra-putrinya mengikuti les maupun bimbel.

Seperti yang dikeluhkan BP (44), warga Pondok Kharisma Residence Jalan Ir H Djuanda, putrinya yang duduk di bangku kelas 6 SD meminta ikut bimbel. “Padahal ya masih SD kan belum terlalu penting ikut seperti itu. Tapi karena teman-temannya gabung ya terpaksa saya harus ikut sertakan,” ujarnya.

 

Sumber :

https://activerain.com/profile/danuaji