Cerpen Mudik

Cerpen Mudik

Cerpen Mudik

Cerpen Mudik
Cerpen Mudik

Tiba-tiba aku teringat kampungku. Sawah-sawahnya yang menghampar luas dan suara burung pipit yang terbang dari tangkai-tangkai padi seusai diusir oleh si empu sawah masih tajam mengisi urat sarat ingatanku. Entah sudah berapa musim kampung itu ku tinggalkan. Atau barangkali sudah berapa tahun kampung itu ku tinggalkan. Rumah bapak ibuku masih saja dengan alamat itu. Masih sama seperti alamat tujuan wesel yang selalu aku kirimkan tiga atau empat bulan sekali.
Barangkali sudah waktunya aku kembali ke kampung halaman. Selama ini aku seperti dalam sebuah kota pengasingan yang membuatku jauh dari ingatan masa kecil. Terpenjara dalam sebuah kota yang penuh dengan kehidupan beringas. Namun di kota ini, ibu kota ini, aku dapat menghidupi diriku yang dulu hanyalah seorang pengangguran lulusan SMP dengan nilai akhir yang pas-pasan. Di sisi lain aku juga dapat menyisihkan penghasilan untuk dikirim ke bapak ibu.
Kadang ketika aku mengirimkan wesel, ada balasan surat dari kampung. Isinya tak lain adalah menanyakan kapan aku pulang. Aku seperti menjadi seorang anak durhaka yang selalu menunda-nunda untuk pulang ke kampung dengan alasan sibuk. Akan tetapi setiap menjelang lebaran pekerjaanku semakin dikejar waktu. Alias memang benar-benar sibuk. Apalagi kalau ditanya tentang kapan aku pulang membawa calon istri. Itu pertanyaan yang sangat memilukan bagiku.
Tiba-tiba saja aku juga teringat kawan-kawan sepermainanku. Dulu, ketika bakda ashar, kita berbondong-bondong menuju masjid untuk belajar mengaji. Aku masih ingat Darsih, tetanggaku. Ia yang membuat aku selalu rajin ke masjid untuk belajar baca tulis Al quran. Aku senang diajari olehnya. Padahal jika sekolah dia adalah teman sekelasku. Ah, aku mungkin memang terlalu lambat untuk mengeja huruf hijaiyah. Tapi entah mengapa aku lebih cepat mengeja senyum Darsih yang sangat manis itu. Akan tetapi itu dulu, selepas lulus SMP, Darsih telah dipinang dan dinikahi orang lain. Seorang laki-laki tetangga desa yang katanya bekerja di kantor kecamatan.
Ya memang begitulah kampungku. Anak-anak perempuan seumuran lulusan SMP sudah biasa untuk dikawinkan. Orang-orang tua di kampungku sudah terdoktrin paham bahwa kodrat perempuan hanyalah sebatas kanca wingking yang tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Yang penting perempuan itu pandai 3M, yakni masak, macak dan manak. Ya memang begitu pendapat mereka. Aku malah teringat pada Darsih. Sudah punya anak berapakah dia? Aku juga masih ingat senyumnya. Manis sekali.
Labaran ini sudah ku putuskan untuk mudik ke kampung halaman. Aku akan membawa uang sebanyak yang aku punya dan berbagi fitrah dengan keponakan-keponakan. Aku akan mencium tangan dan bersujud di kaki ibuku yang sudah bertahun-tahun aku tinggalkan. Tapi aku pulang tidak membawa calon istri. Aku malah berniat mencari calon istri di kampung. Aku pun berhayal jika Darsih telah bercerai dan ketika aku pulang ia mau ku nikahi. Atau Mungkin khayalanku ini terlalu tinggi.
“Han…Barhan…ini tiketmu, keretanya berangkat besok jam sembilan pagi!”
“ Oke…lha kamu gak ikut mudik?
“Ha..ha..ha….tahun depan saja, aku masih kerasan di kota ini”
“Ya sudahlah…kamu tadi ditelepon Tedjo”
“Sudah ku telepon balik”

Sumber : https://icanhasmotivation.com/whatsapp-business-apk/