Ciri-Ciri Budaya Politik

Ciri-Ciri Budaya Politik

Ciri-Ciri Budaya Politik

Ciri-Ciri Budaya Politik
Ciri-Ciri Budaya Politik

Budaya politik

ialah pecahan dari kebudayaan masyarakat dengan ciri-ciri yang lebih khas, yaitu sebagai diberikut
1.Budaya politik menyangkut masalah legitimasi;
2.Pengaturan kekuasaan;3.Proses pembuatan kebijakan pemerintah;
4.Kegiatan partai-partai politik;
5.Perilaku pegawanegeri negara;
6.Gejolak masyarakat terhadap kekuasaan yang memerintah;
7.Kegiatan politik, juga memasuki dunia keagamaan, kegiatan ekonomi dan sosial, serta kehidupan langsung dan sosial secara luar;dan
8.Budaya politik menyangkut contoh pengalokasian sumber-sumber masyarakat.
Budaya Politik Prokial, kaula, dan partisipan
Budaya politik sangat luas lingkupnya terutama bila subkultur juga dibahas, namun budaya politik sanggup diklasifikasikan sebagai diberikut :

1. Budaya politik Protokial

Budaya politik ini sangat terbatas alasannya ialah spesialuntuk mencakup beberapa aspek pada suatu wilayah atau lingkup yang terkecil dan sempit, contohnya yang bersifat provinsial. Adapun ciri-cirinya sebagai diberikut :
– Budaya politik ini berkembang dalam masyarakat tradisional dan sederhana, dimana spesialisasi sangat kecil.
– Para pelaku politik sering malakukan peranannya dengan serempak mencakup bidang ekonomi, keagamaan, dan lain-lain
– Dalam masyarakat yang bersifat prokial ini, alasannya ialah terbatasnya deferensiasi, tidak terdapat peranan politik yang bersifat khas dan bangkit sendiri.
– Pada kebudayaan menyerupai ini, anggota masyarakat cenderung tidak menaruh minat terhadap objek-objek politik yang luas, kecuali dalam batas tertentu, yaitu daerah dimana ia sanggup terikat secara sempit.
– Yang tampak menonjol dalam budaya politik protokial ialah adanya kesadaran anggota masyarakat akan adanya sentra kewenangan atau kekuasaan politik dalam masyarakatnya.

Baca Juga: Pengertian Musik Tradisional

2. Budaya Politik Kaula

Yaitu dimana anggota masyarakat mempunyai minat perhatian, mungkin pula kesadaran terhadap adanya sistim sebagai keseluruhan terutama dari segi output-nya. Budaya ini sanggup ditandai dengan beberapa hal antara lain :
– Perhatian (yang frekuensinya sangat rendah) atau aspek input serta kesadarannya sebagai pemeran politik boleh dikatakan nol
– Orientasi mereka yang positif terhadap objek politik sanggup terlihat dari pernyataannya, baik berupa kebanggaan, ungkapan perilaku mendukung, maupun skap permusuhan terhadap sisitem, terutama terhadap sistim output-nya
– Posisi sebagai kaula, pada pokoknya sanggup dikatakan posisi yang pasif
– Mereka menganggap dirinnya tidak berdaya untuk mempengaruhi atau merubah sistim, dan oleh alasannya ialah itu mereka mengalah pada segala kebijakan dan keputusan para pemegang jabatandalam masyarakatnya
– Segala keputusan dalam arti output yang diambil oleh tugas politik dalam arti pemangku jabatan politik, dianggap sebagai sesuatu yang tidak sanggup diubah, dikoreksi, apalagi diperihal.

3. Budaya Politik Partisipan

Budaya ini ditandai oleh adanya prileku yang tidak sama dengan prilaku sebagai kaula. yang antara lain :
– Seseorang yang menganggap dirinya ataupun orang lain sebagai anggota aktif dalam politik
– Seseorang dengan sendirinya menyadari setiap hak dan tanggung jawabannya (kewajibannya) sanggup pula merealisasi dan mempergunakan hak serta menanggung kewajibannya.
– Tidak diperlukan seseorang mendapatkan begitu saja keadaan, disiplin-mati, tunduk (taklid) terhadap keadaan tidak lain alasannya ialah ia ialah salah satu rantai aktif proses politik
– melaluiataubersamaini demikian seseorang dalam budaya politik partisipan sanggup menilai dengan penuh kesadaran, baik sistim sebagai totalitas, input atau output maupun posisi dirinya sendiri.
– Oleh alasannya ialah tercakupnya pedoman input dan pedoman output, ia sendiri terlibat dalam proses politik sistim politik tertentu, betapa pun kecilnya.
– Karena itu, jika ada penerimaan terhadap sistim politik, penerimaan itu harus dinilai menyerupai yang bekerjsama dan demikian pula sebaliknya.