Citra Penginderaan Jauh

Citra Penginderaan Jauh

Citra Penginderaan Jauh

Citra Penginderaan Jauh
Citra Penginderaan Jauh

Objek yang terekam pada citra dapat dikenali berdasarkan ciri yang terekam oleh sensor. Ciri yang terekam oleh sensor ada 3 (tiga) yaitu:
1. Ciri spasial yaitu ciri yang berkaitan dengan ruang, meliputi bentuk, ukuran, bayangan, pola, tekstur, situs, dan asosiasi/ciri-ciri tertentu.
2. Ciri temporal yaitu ciri yang terkait dengan umur benda atau waktu saat perekaman, seperti lereng yang memiliki umur batuan muda dapat dibedakan dengan lereng yang memiliki umur batuan tua (terkait umur), air pada citra foto, tampak gelap pada musim kemarau, tetapi cerah pada musim kemarau (terkait waktu).
3. Ciri spektral yaitu ciri yang dihasilkan oleh tenaga elektromagnetik dengan benda, yang dinyatakan dengan rona dan warna.

Citra dapat dibedakan atas citra foto (photographic)/ foto udara dan citra nonfoto (nonphotographic image).
1. Citra foto ialah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan sensor kamera.
2. Citra nonfoto ialah gambaran yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera. Citra nonfoto berdasarkan wahana yang digunakan dibagi menjadi 2 yaitu:
a. Citra dirgantara (airbone image) yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan wahana di udara. Contohnya citra inframerah termal, citra radar, dan citra MSS. Citra jenis ini jarang digunakan.
b. Citra satelit (satellite/Spaceborne Image) yaitu citra yang dibuat dari antariksa (angkasa luar). Penggunaan citra satelit dapat dibedakan sebagai berikut.
1) Citra satelit untuk penginderan planet. Contoh: citra satelit Viking (AS) dan citra satelit Venera (Rusia).
2) Citra satelit untuk penginderaan cuaca. Contoh: NOAA (AS) dan citra meteor (Rusia).
3) Citra satelit untuk penginderaan sumber daya bumi. Contoh: citra landsat (AS), citra ERS (Eropa), citra Soyuz (Rusia), dan citra SPOT (Prancis).

Sumber : https://cialis.id/