Dasar Hukum Ijtihad & Macamnya

Dasar Hukum Ijtihad & Macamnya

Dasar Hukum Ijtihad & Macamnya

Dasar Hukum Ijtihad

1. Dari Al-Qur’an

Dasar hukum ijtihad dalam al-Qur’an, antara lain:
فا عتبروا يا او لى ا لا بصا ر

“ Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (Q.S.al-Hasyr: 2)
Ayat tersebut mengisyaratkan kepada manusia agar menggunakan pikiran dan akal serta mengambil I’tibar.

2. Dari Hadist

“Dari Amr bin ‘ Ash ra.yang mendengar Rasulullah bersabda, “Apabila seseorang Hakim memutuskan perkara, lalu ia berijtihad, kemudian ternyata ijtihadnya itu benar, maka baginya mendapat dua pahala.Dan apabila ia memutuskan suatu perkara, lalu ia berijtihad, kemudian ternyata ijtihadnya keliru menurut pandangan Allah, maka ia mendapat satu pahala.(H.R.Muslim dan Ahmad).
Dari hadist di atas, nampak jelas bahwa ijtihad diakui oleh Rasulullah SAW.untuk dijadikan sebagai salah satu sumber hukum Islam, bila tidak ditemukan di dalam al-Qur’an dan Sunnah dalil-dalil yang secara tegas digunakan untuk menerapkan hukum masalah yang actual, walaupun kemungkinan ijtihad yang dilakukan itu keliru menurut pandangan Allah SWT.

Macam-macam Ijtihad

Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya Ushul al-Fiqh menyebut ada enam tingkatan mujtahid, yaitu :
1) Mujtahid Mustaqill, yaitu mujtahid yang mengeluarkan hukum-hukum dari Al-Qur’an dan sunnah, melakukan kias, berfatwa dan beristihsan.
2) Mujtahid muntasib, yaitu mujtahid yang memilih perkataan-perkataan seorang Imam pada hal-hal yang bersifat mendasar dan berbeda pendapat dengan mereka dalam hal-hal furu’ (cabang) walaupun pada akhirnya ia akan sampai pada hasil yang serupa dengan yang telah dicapai imam tersebut.
3) Mujtahid fil Madzhab, yaitu mujtahid yang mengikuti pendapat Imam Madzhab,baik dalam hal-hal ushul maupun furu’. Usahanya hanya terbatas dalam menyimpulkan hukum-hukum persoalan yang belum ditemui hukumnya dalam pendapat imam madzhab.
4) Mujtahid Murajjih, yaitu mujtahid yang meng-isthinbat-kan hukum-hukum yang tidak diijtihadkan oleh para ulama’ sebelumnya. Sebenarnya mujtahid pada tingkatan ini hanya mencari pendapat imam madzhab yang lebih kuat.
5) Mujtahid Muhafidh, yaitu mujtahid yang mengetahui hukum-hukum yang telah ditarjih oleh para ulama’ sebelumnya.
6) Mujtahid Muqallid, yaitu mujtahid yang hanya sanggup memahami pendapat-pendapat mujtahid lain, tidak mampu melakukan tarjih.

Baca Juga: