Epidemiologi

Epidemiologi

Kanker serviks mash menjadi penyebab kesakitan dan kematian di seluruh dunia dan merupakan kanker ke-2 terbanyak yan terjadi pada wanita (Volgareva et al., 2004; Skiba et al, 2006). Diperkirakan terdapat 500.000 kasus baru tiap tahun dan sekitar 350 klien meninggal karena penyakit ini (Skiba et al., 2006). Menurut Yayasan Kanker Indonesia (YKI), penyakit ini telah merenggut lebih dari 250.000 perempuan di dunia dan terdapat lebih 15.000 kasus kanker serviks baru, merenggut 8000 kematian di Indonesia setiap tahunnya. Pada tahun 2012 ada 6838 perempuan yang melakukan pemeriksaan papsmear, dimana diketahui 4170 orang dengan hasil normal dan 2668 orang terdiagnosa kanker serviks. (Baughman, Diane C. 2000)

Megingat beratnya akibat yang ditimbulkan oleh kanker serviks dipandang dari segi harapan hidup, lamanya penderitaan, serta tingginya biaya pengobatan, sudah sepatutnya apabila kita memberikan perhatian yang lebih besar terhadap penyakit yang sudah terlalu banyak memakan banyak korban, dan segala aspek yang berkaitan dengan penyakit tersebut serta upaya-upaya preventif yang dapat dilakukan, seperti halnya pemeriksaan papsmear yang dilakukan setiap tahun walaupun tidak ada gejala kanker. (Yatim Faisal. 2008)

Masih tingginya angka penderita kanker di Indonesia disebabkan karena penyakit ini tidak menimbukkan gejala dan rendahnya kesadaran wanita untuk memeriksakan kesehatan dirinya. Untuk itu penulis tertarik untuk membahas penyakit ini lebih dalam lagi  untuk memberikan informasi agar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya wanita.

2.4.4   Etiologi

Infeksi human papiloma virus atau HPV atau Virus Papiloma manusia dapat terjadi pada perempuan usia subur. HPV ditularkan melalui hubungan seks dan ditemukan pada 95% kasus kanker leher rahim.Infeksi HVP dapat menetap dan berkembang menjadi displasia atau sembuh secara sempurna.

Ada ratusan tipe HVP yang digolongkan menjadi dua, yaitu HVP risiko tinggi (onkogenik), yang utamanya tipe 16, 18 dan 31, 33, 45, 52, 58, dan HVP resiko rendah (non onkogenik) yaitu HPV tipe 6, 11, 32, dan sebagainya. Tipe 16 dan 18 merupakan tipe kanker serviks.

Peroses terjadinya kanker leher rahim berhubungan erat dengan proses metaplasia. Masuknya mutagen (bahan-bahan yang dapat mengubah peragai sel secara genetik) pada saat fase aktif metaplasia dapat berubah menjadi sel yang berpotensi ganas.Perubahan ini biasanya terjadi di zona tranformasi.Sel yang mengalami mutasi disebut sel displastik dan kelainan epitelnya disebut dipslasia (Neoplasia Intra-epitel Serviks/NIS).

Perkembangan kanker leher rahim dimulai dari displasia (ringan, sedang dan berat). Lesi displasia sering disebut “lesi pra-kanker”, yaitu kelainan pertumbuhan sel yang perkembangannya  sangat lamban. Displasia kemudian berkembang menjadi karsinoma in-situ (kanker belum menyebar), dan akhirnya menjadi karsinoma invasif (kaker yang dapat menyebar).Perkembnagan dari diplasia menjadi kanker membutuhkan waktu bertahun tahun (7-15 tahun).

Adapun faktor resiko lain penyebab terjadinya kanker serviks antara lain;

  1. Umur Pertama Kali Melakukan Hubungan Seksual

Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Menikah pada usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda.

  1. Jumlah Kehamilan dan Partus

Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus.Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.

  1.  Jumlah Perkawinan

Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.

  1. Sosial Ekonomi

Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perseorangan.Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.

  1. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)

Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

  1. Berganti pasangan seksual dan tanpa menggunakan kondom
  2. Riwayat infeksi didaerah kelamin dan radang panggul. Infeksi menular seksual (IMS) dapat menjadi peluang meningkatnya risiko terkena kanker leher rahim. (Yatim Faisal. 2008)

sumber :

 

http://www.unmermadiun.ac.id/sewulan/index.php/2020/05/seva-mobil-bekas/