Gangguan Sistem Pencernaan Pada Manusia

Gangguan Sistem Pencernaan Pada Manusia

Gangguan Sistem Pencernaan Pada Manusia

Gangguan Sistem Pencernaan Pada Manusia
Gangguan Sistem Pencernaan Pada Manusia

Disfagia

Disfagia yaitu sulit menelan merupakan salah satu gejala-gejala kelainan atas penyakit di orofaring dan osefagus. Keluhan ini akan timbul bila terdapat gangguan gerakan otot-otot menelan dan gangguan transportasi makanan dari rongga mulut ke lambung.
Berdasarkan penyebabnya, disfagia di bagi atas : 1). Disfagia mekanik, 2). Disfagia motorik, 3). Disfagia oleh gangguan emosi.
Penyebab utama disfagia mekanik adalah sumbatan lumen osefagus oleh massa tumor dan benda asing. Disfagia mekanik dapat terjadi akibat penyempitan lumen osefagus. Pada keadaan normal lumen osefagus dapat meregang sampai 4 cm keluhan disfagia ini muncul bila dilatasi ini tidak mencapai diameter 2,5

Keluhan disfagia motorik disebabkan oleh kelainan neuromuskular yang berperan dalam proses menelan, misalnya lesi dipusat menelan dibatang otak. Kelainan saraf otak nervus V, nervus IX, nervus X, dan nervus XII, kelumpihan otot faring dan lidah serta gangguan perisaltik osefagus.

Keluhan disfagia dapat juga timbul bila terdapat gangguan emosi atau tekanan jiwa yang berat. Kelainan ini dikenal sebagai globus histerikus. Proses menelan merupakan proses yang kompleks. Setiap unsur berperan dalam proses menelan harus bekerja secara terintegrasi dan berkesinambungan keberhasilan mekanisme menelan ini tergantung dari beberapa paktor yaitu (a) ukuran bolus makanan (b) diameter lumen osepagus yang dilalui bolus (c) kontraksi peristaltik osefagus (d) fungsi stringter osefagus bagian atas dan bawah dan (e) kerja otot-otot rongga mulut dan lidah.

Diagnosis

Anamnesia

Untuk menegakkan diagnosis diperlukan anamneis yang cermat untuk menentukan diagnosis kelainan atau penyakit yang menyebabkan timbulnya disfagia. Jenis makanan yang menyebabkan disfagia dapat memberikan informasi yang terjadi. Pada disfagia mekanik mula-mula kesulitan menelan hanya terdapat pada waktu menelan makanan padat. Bekas makanan tersebut kadang-kadang perlu di dorong dengan air dan pada sumbatan yang lebih lanjut, cairan pun akan sulit ditelan bila sumbatan ini terjadi secara progresif dalam beberapa bulan, maka harus dicurigai kemungkinan adanya proses keganasan di osefagus. Lokasi rasa sumbatan di daerah leher, menunjukkan letak kelainan di osefagus bagian servikal atau kelainan  efigastrium, kelainan berada di osefagus bagian distal. Gejala lain yang menyertai disfagia, seperti masuknya cairan kedalam hidung waktu minum menandakan adanya kelumpuhan otot-otot faring. Bila terjadi aspirasi setiap minum, maka perlu dicurigai adanya fistula trakheoesofagel.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan daerah leher dilakukan untuk melihat dan meraba-raba adanya mass tumor atau pembesaran kelenjar limfe yang dapat menekan osefagus. Daerah rongga mulut perlu diteliti, apakah adda tanda-tanda peradangan orofaring dan tonsil, selain adanya massa tumor yang dapat menganggu proses menelan. Selain itu perlu diteliti adanya kelumpuhan otot-otot lidah yang disebabkan gangguan di pusat menelan maupun pada saraf otak nervus V, nervus IX, nervus X, dan nervus XII.

Pemeriksaan Radiologi

Pemeriksaan penunjang foto polos osefagus dan yang memakai zat kontras dapat membantu dalam menegakkan diagnosis kelainan osefagus. Pemeriksaan ini tidak invasif. Dengan pemeriksaan fluoroskopi dapat dilihat kelenturan dinding osefagus, dengan adanya gangguan peristaltik, penekanan lumen osefagus dari luar isi lumen osefagus dan kadang-kadang kelainan mukosa osefagus. Pemeriksaan kontras ganda dapat memperlihatkan  karsinoma stadium dini. Temograph dan CT Scan dapat mengevaluasi bentuk osefagus dan jaringan disekitarnya. MRI (Magnetic Resonance Imaging) dapat membantu melihat kelainan di otak yang menyebabkan disfagia motorik.

Esopagoskopi

Tujuan tindakan esopagoskopi adalah untuk melihat langsung isi lumen osefagus dan keadaan mukosanya. Diperlukan alat esofagoskop yang kaku atau yang lentur karena pemeriksaan ini bersifat invasif, maka perlu persiapan yang baik dapat dilakukan dengan analgesia (anastesi lokal) anastesi umum. Untuk menghindari komplikasi yang mungkin timbul, perlu diperhatikan indikasi dan kontra indikasi tindakan persiapan pasien, operator, peralatan dan ruangan pemeriksaan perlu dilakukan. Resiko seperti pendarahan dan perforasi pasca operasi perlu dipertimbangkan.   

Sumber: https://www.pendidik.co.id/