Kepemimpinan Asta Sebagai Gaya Kepempinan Berbasis Budaya Bali

Kepemimpinan Asta Sebagai Gaya Kepempinan Berbasis Budaya Bali

Kepemimpinan Asta Sebagai Gaya Kepempinan Berbasis Budaya Bali

 

Kepemimpinan Asta Sebagai Gaya Kepempinan Berbasis Budaya Bali
Kepemimpinan Asta Sebagai Gaya

 

Pada saat sekarang ini masyarakat Bali pada umumnya

dan masyarakat akademik khususnya nampak menunjukkan adanya kecendrungan bahwa dalam belajar tentang kepemimpinan lebih banyak dan lebih suka pada teori-teori yang berasal dari negara-negara barat, seperti teori-teori manajemen dan kepemimpinan yang berkembang di Eropa dan Amerika. Masyarakat Bali pada umumnya dan masyarakat akademik khususnya jika dalam melakukan suatu kegiatan akademik yang berfokus pada masalah kepemimpinan maka di dalam menguraikan, membahas, mengkaji, menganalisisnya tanpa berpijak dan berlandaskan pada teori-teori manajemen dan kepemimpinan yang berkembang di dunia barat tersebut, maka produk dari karya kegiatan ilmiah tersebut akan dirasakan kurang berkualitas, kurang ilmiah, kurang modern, kurang canggih, dan terkesan kurang menarik. Padahal disisi lain sebenarnya masih ada teori-teori kepemimpinan yang tidak kalah baiknya serta hebatnya yang terdapat dan bersumber dari budaya bangsa, khususnya sastra-sastra Agama Hindu yang merupakan mahakarya yang luhur dan adi luhung yang diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia dari sejak jaman dahulu yang seharusnya juga sangat penting perlu dipelajari dan dapat dijadikan rujukan, landasan pijakan di dalam membahas masalah-masalah kepemimpinan, serta diaplikasikan dalam mengemban suatu kepemimpinan tersebut termasuk dalam dunia pendidikan khususnya para kepala sekolah. Ariasna (1988) misalnya menjelaskan ada beberapa pola atau sisfat-sifat kepemimpinan yang bersumber dari budaya bangsa, khususnya sastra-sastra Agama Hindu, seperti: (1) model kepemimpinan menurut Niti Sastra, (2) Asta Brata, (3) Panca Sthiti Dharmaning Prabhu, (4) Asta Dasa Paramiteng Perabhu, (5) Panca Pendawa, (6) Catur Kotamaning Nrpati, dan (7) Catur Naya Sandhi.

Dalam buku ajar ini juga dibahas salah satu model atau sifat

kepemimpinan yang bersumber dari teori-teori budaya, dan sastra-sastra agama Hindu tersebut, yaitu model atau kepemimpinan Asta Brata.Tulisan ini dilakukan untuk mencoba menelusuri dan mendeskripsikan bagaimana kelebihan dan kehebatan dari teori-teori kepemimpinan yang bersumber dari budaya, karya-karya santra, dan agama Hindu tersebut, juga sebagai bahan masukkan bagi masyarakat atau publik khususnya para kepala sekolah sebagai pelaku, sebagai pigur pendidikan yang sentral dan strategis untuk dijadikan rujukan dalam penyelengaraan pengelolaan pendidikan di sekolah, dan dalam rangka ikut mewujudkan pencapaian sasaran kebijakan lokal gerakan dan melestarikan Ajeg Bali.

Dalam kepustakaan disebutkan ada berbagai cara

dalam mendekati kepemimpinan dan karkteristik atau gaya kepemimpinan seseorang. Pendekatan teori kepemimpinan tersebut mulai dari teori pendekatan sifat, teori pendekatan perilaku, teori kontingensi, dan pendekatan situasional (Mulyasa.2002). Demikian juga pada saat jaman globalisasi seka-rang ini yang penuh ditandai dengan adanya perubahan dalam semua aspek kehidupan manusia yang begitu cepat dan dasyat juga dikaji teori kepemimpinan yang dianggap sesuai dengan jamannya seperti teori kepemimpinan dalam keberagaman budaya (Gerring Supriyadi, Suradji, Daan Suganda. 2001), kemudian teori kepemimpinan transaksional, visioner, dan transformasional (Komariah dan Triatna. 2006., Danim. 2005. 2006., Raihani. 2010).