Kompetensi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan

Kompetensi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan

Kompetensi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan

Kompetensi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pendidikan

 

Kompetensi adalah merupakan

salah satu kriteria dari suatu profesi. Kepala sebagai suatu pengembangan jabatan dari guru yang disebut tugas tambahan juga dituntut untuk memenuhi kriteria kompetensi tersebut. Kompetensi bisa dilihat dari berbagai aspek seperti pengertiannya, karakteristiknya, maupun cara mengukur kompetensi tersebut. Dalam pembahasan bab ini juga dibahas beberapa aspek dari kompetensi profesi tenaga kependidikan khususnya kepla sekolah.

Mengenai pengertian kompetensi sebagai

salah satu ciri dari profesi dalam kepus-takaan diberikan pengertian secara beraneka ragam tergantung dari sudut pandang para penulis. Keaneka ragaman pengertian kompetensi tersebut, dapat ditunjukkan dalam pembahasan ini, seperti, misalnya ada pendapat yang menyatakan bahwa kompetensi tersebut adalah suatu hal yang menggambarkan kemampuan seseorang, baik yang kuali-tatif maupun kuantitatif (Usman. 2005). Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengertian kompe-tensi seperti ini mengandung makna bahwa kompetensi tersebut dapat digunakan dalam dua kontek. Kontek pertama sebagai indikator yang menunjukkan kepada perbuatan yang diamati. Kontek kedua sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek kognitif. afektif, dan perbuatan, serta tahap-tahap pelaksanaannya secara utuh. Kemudian kompetensi juga diberikan pengertian sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian darinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya (Mulyasa. 2003). Kompetensi juga diberikan pengertian sebagai panguasaan terhadap tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang diperlukan untuk keberhasilan (Mulyasa. 2003).

Kemudian Gordon dalam Mulyasa (2005)

memerinci beberapa aspek dari kompetensi, sebagai berikut. Pertama pengetahuan, yaitu kesadaran dalam bidang kognitif, seperti, misalnya seorang guru sekolah mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan bantuan yang diperlukan muridnya dalam melakukan pembelajaran dikelasnya. Kedua pemahaman yaitu kedalaman kognitif dan apektif yang dimiliki oleh individu, seperti misalnya seorang guru yang akan melaksanakan pemebelajaran harus memiliki pemahaman yang luas tentang karekteristik dan kondisi muridnya agar dapat pembelajaran berjalan secara efktif. Ketiga kemampuan, yaitu suatu yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya, seperti, misalnya kemam-puan guru dalam memilih dan membuat media pembelajaran yang diperlukan untuk lebih memotivasi dan memudahkan pembelajaran peserta didik. Keempat nilai, yaitu suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang, seperti, misalnya standar perilaku dalam pembelajaran, antara lain kejujuran, keterbukaan, demokratis, obyektif, adil. Kelima sikap, yaitu perasaan seperti perasaan senang dan tidak senang, suka tidak suka, atau reaksi terhadap terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar, seperti reaksi terhadap krisis ekonomi, kenaikan gaji, dan sebagainya.

Keenam minat yaitu kecendrungan

seseorang untuk melakukan suatu perbuatan, seperti, misalnya, minat sesorang untuk melakukan sesuatu atau mempelajari sesuatu. Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa kompetensi yang harus dimiliki oleh suatu profesi adalah mencakup: kemampuan untuk mengembangkan pribadi, penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan, kemampuan berkarya, kemampuan menyikapi dan berprilaku dalam berkarya, dapat hidup bermasya-akat (Pusposutardjo. 2002). Pengertian kompetensi lainnya yang lebih konseptual sifatnya menguraikan bahwa kompetensi tersebut mengandung tiga pengertian. (1) pengertian kompetensi itu pada dasarnya merupakan kecakapan atau kemampuan untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan, (2) menunjuk pada pengertian bahwa kompetensi itu merupakan sifat orang-orang, yang memiliki kecakapan, kemampuan, otoritas, kemahiran, pengetahuan dan lain sebagainya untuk dapat mengerjakan sesuatu yang diperlukan, dan (3) bahwa kompetensi merupakan tindakan atau kinerja rasional yang dapat mencapai tujuan-tujuannya secara memuaskan berdasarkan kondisi yang diharapkan (Makmun.1996, Dep-dikbud.1978, Depdikbud. 1984).

Lebih jauh Makmun (1996)

menyatakan bahwa berpijak pada pengertian kompetensi tersebut dapat juga dijelaskan bahwa sesungguhnya seseorang yang dapat disebut sebagai profesional yang kompeten, kalau menunjukkan karakteristik: (1) mampu melakukan sesuatu pekerjaan tertentu secara rasional, dalam arti, ia memiliki visi dan misi yang jelas, ia melakukan sesuatu berdasarkan pada hasil analitis kritis dan pertimbangan logis dalam membuat pilihan dan mengambil keputusan tentang apapun yang akan dikerjakan, (2) menguasai perangkat pengetahuan yaitu teori, konsep, prinsip dan kaidah, hipotesis dan generalisasi, data dan imformasi lainnya tentang seluk beluk apa yang menjadi bidang tugas pekerjaannya, (3) menguasai perangkat keterampilan yang mencakup strategi dan taktik, metode dan teknik, prosedur dan mekanisme, sarana dan instrumen, tentang cara melakukan tugas pekerjaannya, (4) menguasai perangkat persyaratan ambang tentang ketentuan kelayakan normatif minimal kondisi dari proses yang dapat ditoleran-sikan dan kriteria keberhasilan yang dapat diterima dari apa yang dilakukannya, (5) memiliki daya dan citra unggulan dalam melakukan tugas pekerjaannya. Ia bukan sekedar puas dengan memadai persyaratan minimal, melainkan berusaha mencapai yang sebaik mungkin, dan (6) memiliki kewenangan yang memancar atas penguasaan perangkat kompetensi yang dalam batas tertentu dapat didemontrasikan dan teruji sehinga memung-kinkan memperoleh pengakuan pihak berwewenang.