Konsep Fitrah Menurut Sunnah 

   Konsep Fitrah Menurut Sunnah

Tidak jauh berbeda dengan pengertian fitrah menurut al-Qur’an, maka pengertian fitrah menurut Sunnah tidak lepas dari penafsiran terhadap al-Qur’an surat al-Rûm ayat 30. Dari ayat tersebut timbul interpretasi sunnah terhadap beberapa pengertian fitrah , yaitu sebagai berikut:

Pengertian pertama dari fitrah menurut Sunnah adalah fitrah dalam artian suci. Fitrah dalam artian ini sebagaimana dikatakan oleh al-Auza’iy bahwa fitrah adalah kesucian dalam jasmani dan rohani manusia. Kesucian yang dimaksud adalah sebagaimana Hadits Rasulullah Saw:

خَمْسٌ مِّنَ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَاْلاِسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيْمُ اْلاَظَافِرِ وَنَتْفُ اْلإِبْطِ. )متفق عليه عن أبى هريرة(

Lima macam dalam kategori kesucian, yaitu berkhitan, memotong rambut, mencukur kumis, menghilangkan kuku, dan mencabut bulu ketiak. (H.R. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

Kesucian yang dimaksud dalam konteks pendidikan Islam adalah, kesucian manusia dari dosa waris, atau dosa asal, sebagaimana dikatakan oleh Isma‘il Raji al-Faruqi: Manusia diciptakan dalam keadaan suci, bersih, dan dapat menyusun drama kehidupannya, tak peduli di lingkungan, masyarakat, keluarga macam apa pun dia dilahirkan. Islam menyangkat setiap gagasan mengenai dosa asal, dosa waris, dan tanggung jawab penebusan, serta keterlibatannya dalam kesukuan nasional ataupun internasional. Jadi, pengertian pertama fitrah menurut Sunnah adalah kesucian (ţuhr), yakni kesucian manusia sebagai makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT sejak awal, sehingga manusia tidak dibebani dosa warisan atau dosa asal sebagaimana diyakini oleh kaum Nasrani.

Pengertian fitrah kedua menurut Sunnah adalah fitrah berarti Islam (Dîn al- Islâm). Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah r.a. bahwa yang dimaksud dengan fitrah adalah agama, sebagaimana Hadits Rasulullah SAW:

اَلاَ اُحَدِّثُكُمْ بِمَاحَدَّ ثَنِيَ اللهُ فِى كِـتَابِهِ اَنَّ اللهَ خَلَقَ اٰدَمَ وَبَنِيْهِ حُنَفَآءَ مُسْلِمِيْنَ.)رواه عياض بن خمار عن ابى هريرة(

“Bukankah aku telah menceritakan kepadamu pada sesuatu yang Allah menceritakan kepadaku dalam Kitab-Nya bahwa Allah menciptakan Adam dan anak cucunya untuk berpotensi menjadi orang-orang Islam”.

Oleh karena itu, anak kecil yang meninggal dunia akan masuk surga, karena ia dilahirkan dengan dîn al-Islâm walaupun ia terlahir dari keluarga non muslim.

Pengertian fitrah ketiga menurut Sunnah adalah fitrah berarti murni (al-ikhlaş). Hal ini sebagaimana dikatakan oleh al-Thabari bahwa manusia lahir dengan berbagai sifat, salah satu di antaranya adalah kemurnian (keikhlasan) dalam menjalankan suatu aktivitas. Pemkanaan ini didukung oleh Hadits Rasulullah SAW:

ثَلاَثٌ وَهِيَ الْمُنْجِيَاتُ اْلإِخْلاَصُ وَهِيَ فِطْرَةُ اللهِ الَّتِى فَطَرَالنَّاسَ عَلَيْهَا, وَالصَّلاَةُ وَهِيَ الْمِلَّةُ, وَالطَّاعَةُ وَهِيَ الْعِصْمَةُ.)رواه إبن حميدعن معاذ(

“Tiga perkara yang menjadikan selamat, yaitu ikhlash berupa fitrah Allah di mana manusia diciptakan darinya, shalat berupa agama, dan taat berupa benteng perniagaan. (H.R. Abu Hamid dari Mu’adz).”

Pengertian berikutnya dari fitrah menurut Sunnah adalah fitrah berarti ketetapan atau kejadian asal manusia mengenai kebahagiaan dan kesesatannya. Pendapat tersebut dipegangi oleh Ibnu Abbas, Ka‘ab bin Qurodli, Abu Sa‘id al-Khudriy dan Ahmad bin Hanbal. Pengertiannya adalah bahwa manusia lahir dengan ketetapannya, apakah ia nanti menjadi orang yang bahagia ataukah menjadi orang yang sesat. Semua itu bergantung pada ketetapan yang diperoleh sejak manusia itu lahir. Ketetapan manusia selanjutnya disebut dengan fitrah, yang tidak dapat dipengaruhi oleh kondisi eksogen apa pun termasuk pendidikan. Apabila ketetapan asalnya baik, proses kehidupannya akan selalu baik walaupun pada awal perbuatannya sesat. Demikian pula sebaliknya apabila ketetapan asalnya sesat, ia akan menjadi orang yang sesat walaupun ia beraktivitas seperti orang yang baik.

Selanjutnya Abu Sa‘id al-Khudriy menukil sebuah Hadits Rasulullah SAW yang artinya:

“Ingatlah bahwa anak cucu Adam tercipta atas enam tingkatan, yaitu: (1) Dilahirkan dalam keadaan mukmin, hidup sebagai seorang mukmin, dan matinya sebagai orang mukmin pula; (2) Dilahirkan dalam keadaan kafir, hidup sebagai orang kafir and matinya pun menjadi kafir; (3) Dilahirkan sebagai orang mukmin dan hidup menjadi seorang mukmin, tetapi matinya sebagai orang kafir; (4) Dilahirkan sebagai orang kafir, dan hidupnya menjadi orang kafir, tetapi matinya sebagai orang mukmin; (5) baik ketetapan hidupnya; dan (6) baik mata pencahariannya”. (HR. Abu Sa’id al-Khudriy).

Pengertian fitrah yang lainnya menurut Sunnah adalah berarti tabiat alami yang dimiliki manusia. Hal ini sebagaimana Hadits Rasulullah SAW:

sumber :

Joe Dever’s Lone Wolf Complete 1.00 Apk