Minimalisasi Hama dengan Bertanam di “Greenhouse”

Minimalisasi Hama dengan Bertanam di Greenhouse

Minimalisasi Hama dengan Bertanam di “Greenhouse”

Minimalisasi Hama dengan Bertanam di Greenhouse
Minimalisasi Hama dengan Bertanam di Greenhouse

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian Negeri Lembang, Kab. Bandung Barat

menerapkan penggunaan greenhouse (rumah tanaman) dalam budidaya tanaman di lingkungan sekolahnya. Konsep greenhouse ini berfungsi menghindari serangan hama. Selain itu, perawatan hingga biaya pemberantasan hama pun berkurang.

Wakil Manager Bidang Pemasaran SMK Pertanian Negeri Lembang, Erni Rahmayani mengungkapkan, proses penanaman greenhouse memiliki kelebihan tersendiri. Di antaranya, penanaman yang mudah, pemupukan dan penyiraman terkontrol serta cukup mendapatkan sinar matahari. “Karena atap ditutup transparan jadi sinar matahari tidak langsung menimpa tanaman,” ujar Erni saat diwawancarai di Pameran Pendidikan Hardiknas 2019, di halaman Dinas Pendidikan Jawa Barat, Jln. Dr. Rajiman No. 6, Kota Bandung, Rabu (24/4/2019).

Erni menjelaskan, salah satu produk penanaman greenhouse ini adalah jeruk dekopon

(hasil persilangan antara jeruk bali dan jeruk garut). Bentuknya seperti jeruk bali dengan diameter besar dan kulit tebal, tetapi bulirnya menyerupai jeruk garut.

“Rasanya tidak terlalu manis, asam tapi tak kecut,” tambahnya.

Greenhouse dibagi menjadi 3 media, yaitu tanah, aeroponik, dan hidroponik. Umumnya jenis tanaman yang ditanam dalam lahan tertutup ini adalah sayuran, seperti timun jepang dan sayuran hijau lainnya. “Sekarang kami sedang mencoba menanam kentang dengan media aeroponik. Pemberian nutrisi pada tanaman tersebut dengan disemprot air,” jelasnya.

Selain greenhouse, lanjut Erni, sekolahnya tetap memiliki lahan terbuka agar siswa

bisa belajar menanam tumbuhan lain. “Namun, untuk menanam pohon jeruk dekopon lebih baik di lahan tertutup. Hasilnya pernah berbuah 1 jeruk mencapai 1.400 gram,” tambahnya.

Program swakarya

Tak hanya itu, tambah Erni, SMK Pertanian Negeri Lembang pun membentuk kelompok swakarya pengusaha. “Dimulai dari pemberian lahan, kemudian siswa membersihkan, mengolah, merawat, dan menjual hasil tanaman mereka. Hingga akhirnya sekolah memberi kesempatan untuk mengevaluasi untung dan rugi usaha mereka,” tuturnya.

Program ini semakin ditekankan kepada para siswa agar setelah lulus sekolah mereka bisa berwirausaha sambil meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi.

“Kami menuntun anak-anak agar bisa berwirausaha selepas sekolah. Sehingga, mereka dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sambil berwirausaha,” tutur Erni.***

 

Sumber :

https://vidmate.co.id/