Miris, 2.776 Sarjana Menganggur

Miris, 2.776 Sarjana Menganggur

Miris, 2.776 Sarjana Menganggur

Miris, 2.776 Sarjana Menganggur
Miris, 2.776 Sarjana Menganggur

Pendidikan tinggi tak menjamin seseorang mendapatkan kemudahan dalam pekerjaan.

Seperti itulah kondisi yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim).

Masih banyak sarjana lulusan Perguruan Tinggi (PT) belum dapat berbicara di dunia pekerjaan. Para sarjana menyumbang angka pengangguran kedua setelah Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat.

Kasi Informasi Pasar Kerja dan Penempatan Tenaga Kerja, Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disbudpar) Bojonegoro, Sugi Hartono menyebutkan, total pengangguran selama kurun waktu 2017 sebanyak 23.260 jiwa. Dari jumlah tersebut sebanyak 3.956 jiwa pengangguran lulusan PT, sedangkan pengangguran lulusan SMA berjumlah 16.278 jiwa.

“Untuk S1 dan S2 ada 2.776 pengangguran, terdiri 1.705 laki-laki dan 1071 perempuan

. Sedangkan untuk D1, D2, dan D3 berjumlah 1.240 pengangguran,” sebut Sugi, Selasa (13/2).

Menurut Sugi, banyak para sarjana memilih serta melamar pekerjaan melalui Disbudpar, namun pencari kerja (pencaker) tidak langsung diterima perusahaan, melainkan harus mengikuti proses seleksi terlebih dahulu.

“Kami seleksi pekerjaan yang mereka pilih, biasanya banyak pencaker menolak,

sebab pekerjaan yang mereka cari tak sesuai jurusannya,” tuturnya.

Hal semacam itu, lanjut Sugi, yang menyebabkan tingginya pengangguran lulusan perguruan tinggi di Bojonegoro.

“Misalnya, perusahaan Gas yang sebenarnya membutuhkan tenaga kerja S1 cukup banyak. Tetapi, karena tidak sesuai jurusannya, bukan pencaker saja yang memilih, perusahaan pun juga tak mau merekrutnya,” pungkasnya.

 

Baca Juga :