Objek Kajian Fiqh Muamalah

Objek Kajian Fiqh Muamalah

Dalam hal ini, objek kajian atau ruang lingkup fiqh muamalah secara garis besar meliputi pembahasan tentang harta (al-mal), hak-hak kebendaan (al-huquq), dan hukum perikatan (al-aqad).

a. Hukum Benda :

Pertama, konsep harta (al-mal), meliputi pembahasan tentang pengertian harta, unsur-unsur dan pembagian jenis-jenis harta. Kedua, konsep hak (al-huquq), meliputi pembahasan tentang pengertian hak, sumber hak, perlindungan dan pembatasan hak, dan pembagian jenis-jenis hak. Ketiga, konsep tentang hak milik (al-milkiyah), meliputi pembahasan tentang pengertian hak milik, sumber-sumber pemilikan, dan pembagian macam-macam hak milik.
b. Hukum perikatan / akad :
Jual beli (al-bai’ at tijarah), gadai (rahn), jaminan dan tanggungan (kafalah dan dhaman), pemindahan hutang (hiwalah), perseroan atau perkongsian (asy-syirkah), perseoran harta dan tenaga (al-mudharabah), sewa menyewa (al-ijarah). utang piutang (al-qard), pinjam-meminjam (al ariyah), penitipan (al-wadi’ah).
Sedangkan hubungan antara Fiqh Muamalah dengan Hukum Perdata adalaha keduanya memiliki kemiripan dalam ruang lingkupnya. Keduanya mengatur hubungan antara orang perorangan, antara individu dengan individu lainnya, seperti perdagangan dan semua mengenainya. Fiqh Muamalah merupakan Hukum Perdata dalam bentuk Islam yang didasarkan pada al-Qur’an dan Hadist.

C. Prinsip Fiqh Muamalah
Diantara prinsip-prinsip Fiqh Muamalah adalah sebagai berikut :
1. Hukum Asal dalam Muamalah adalah Mubah (diperbolehkan)
Ulama fiqh sepakat bahwa hukum asal dalam transaksi muamalah adalah diperbolehkan (mubah), kecuali terdapat nash yang melarangnya. Dengan demikian, kita tidak bisa mengatakan bahwa sebuah transaksi itu dilarang sepanjang belum/ tidak ditemukan nash yang secara sharih melarangnya. Berbeda dengan ibadah, hukum asalnya adalah dilarang. Kita tidak bisa melakukan sebuah ibadah jika memang tidak ditemukan nash yang memerintahkannya, ibadah kepada Allah tidak bisa dilakukan jika tidak terdapat syariat dari-Nya.
2. Konsentrasi Fiqh Muamalah untuk Mewujudkan Kemaslahatan
Fiqh muamalah akan senantiasa berusaha mewujudkan kemaslahatan, mereduksi permusuhan dan perselisihan di antara manusia. Allah tidak menurunkan syariah, kecuali dengan tujuan untuk merealisasikan kemaslahatan hidup hamba-Nya, tidak bermaksud memberi beban dan menyempitkan ruang gerak kehidupan manusia. Ibnu Taimiyah berkata: “Syariah diturunkan untuk mewujudkan kemaslahatan dan menyempurnakannya, mengeliminasi dan mereduksi kerusakan, memberikan alternatif pilihan terbaik di antara beberapa pilihan, memberikan nilai maslahat yang maksimal di antara beberapa maslahat, dan menghilangkan nilai kerusakan yang lebih besar dengan menanggung kerusakan yang lebih kecil” .
3. Keadilan Bagi Kedua Belah Pihak
Adil adalah perintah Allah Swt. “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan,” (QS. An-Nahl:90). Meskipun berbuat adil bagian dari perintah Allah, tetapi banyak di antara manusia yang mengabaikan berbuat adil, mereka berkecenderungan berbuat kecurangan, kezaliman, kelaliman demi keuntungan pribadi, kelompok, dan golongan tertentu, bahkan demi etnis tertentu. Padahal Allah mengancam bagi para pembelot dari kebenaran dan keadilan dengan ancaman neraka,”Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahanam,”(QS. Al-Jin:15).


Sumber: https://swatproject.org/