Ontologi Filsafat Dakwah

Ontologi Filsafat Dakwah

Ontologi Filsafat Dakwah

Ontologi Filsafat Dakwah

Kata Ontology berasal dari bahasa Yunani yaitu on/ontos yang berarti “ada”, dan logos artinya “ilmu”. Jadi ontologi ialah ilmu tentang yang ada.Menurut Aristoteles bahwa pengertian ontologi dimaksud untuk mencari makna ada dan struktur umum yang terdapat pada ada , struktur yang dinamakan kategori dan susunan ada.

Ontologi ilmu membicarakan tentang apa yang ingin diketahui dari suatu disiplin ilmu. Dengan perkataan lain, apa yang menjadi bidang telaah ilmu tersebut. Ontology dalam konteks dakwah adalah menjawab pertanyaan apa itu dakwah, dan hal apa saja yang dibicarakan sekitar objek kajian dakwah.

Filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani Philosophia,Philos artinya “suka, cinta atau kecendrungan pada sesuatu”, sedangkanSophia artinya “kebijaksanaan”. Dengan demikian secara sederhana filsafat dapat diartikan cinta atau kecendrungan pada kebijaksanaan.

Dakwah berasal dari kata kerja Da’a, Yad’u, Da’watan, yaitu memanggil, menyeru dan mengajak. Selain itu, juga bermakna mengundang, menuntun, dan menghasung. Sementara dalam bentuk perintah atau  fi’il amr yaitu ud’u yang berarti ajaklah atau serulah.

Adapun dari tinjauan aspek terminologis pakar dakwah Syekh Ali Mahfuz mengartikan dakwah dengan mengajak manusia kepada kebaikan dan petunjuk Allah SWT, menyeru mereka kepada kebiasaan yang baik dan melarang mereka dari kebiasaan yang buruk supaya mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat.

Sayyid Quthub lebih memandang dakwah secara holistis, yaitu sebuah usaha untuk mewujutkan system Islam dalam kehidupan nyata dari tataran yang paling kecil, seperti keluarga, hingga yang paling besar, seperti Negara atau ummah dengan tujuan mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Untuk mewujudkan sistem tersebut diperlukan keinsafan atau kesadaran masyarakat untuk melakukan perubahan dari keadaan yang tidak atau kurang baik menjadi lebih  baik.

Menurut Amrullah Ahmad dakwah adalah Upaya mengajak manusia supaya masuk ke dalam jalan Allah secara menyeluruh (kaffah), baik dengan lisan, tulisan maupun perbuatan sebagai ikhtiar muslim mewujudkan Islam menjadi kenyataan kehidupan pribadi, usrah (kelompok), jama’ah dan ummah.

Menurut penulis bahwa ontologi filsafat Dakwah adalah pemahaman atau pengkajian tentang wujud hakikat dakwah Islam dari segi hakikat dakwah Islam itu sendiri dalam mengkaji problem ontologis dakwah yang juga menjadi perhatian filsafat dakwah.

Ketika berbicara mengenai ontologi dakwah, maka ada tiga hal mendasar yang harus dilihat secara cermat dalam kajian tersebut yaitu:

  1. Manusia (sebagai pelaku dan penerima dakwah)

Pertanyaan tentang siapakah manusia itu telah muncul sejak manusia  berada dimuka bumi, dan jawabanya disusun sesuai dengan perkembangan pola pikir dan pengetahuan manusia itu sendiri. Jawaban dari pertanyaan tersebut  dapat dijabarkan dalam berbagai disiplin ilmu sosial, ekonomi dan lain-lain, yang setidaknya memuat jawaban bahwa manusia itu terdiri dari dua unsur yaitu, pertama jasad material yang tidak ada bedanya dengan binatang). Sedangkan unsur yang kedua adalah jiwa yang bersifat ruhaniyah, yang memungkinkan manusia untuk berfikir dan berkembang secara dinamis. Inilah yang membedakan antara manusia dan binatang.

Manusia dalam pandangan Al-Qur’an dianggap sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk lain dan diangkat derajatnya sebagai makhluk yang mengungguli alam surga bahkan malaikat sekalipun. Akan tetapi dalam beberapa tempat manusia juga direndahkan derajatnya, hal ini karena manusia dilengkapi dengan sifat yang baik dan buruk. Dua sifat ini dapat dipahami dari dua unsur beku penciptaan manusia, unsur materi yang terdiri dari tanah liat yang kering dimana hal ini mengambarkan sifat kerendahan. Unsur kedua adalah ruh Allah yang ditiupkan dalam diri manusia, hal inilah yang mengambarkan sifat sucinya manusia. Dua sifat yang berlawanan ini mawarnai kehidupan dam memaksa manusia untuk memilihnya. Dari pilihan manusia itulah yang akan menentukan nasibnya kelak dikemudian hari.

Sedangakan manusia dalam pandangan dakwah pada hakikatnya adalah bahwa manusia dicipta dalam kondisi yang cenderung pada agama Allah. Hal ini telah ada sejak manusia dalam kandungan, dimana manusia telah bersaksi bahwa Allah adalah tuhannya, sehingga Allah melengkapi manusia dengan dua fungsi utama (sebagai kahlifah dan kehambaan). Sepanjang perjalana hidup manusia selalu dihadapkan pada berbagai macam rintangan dan hambatan yang menggoda fitrahnya. Dalam posisi tersebut manusia harus memilih antara baik dan buruk. Oleh sebab itu Allah memberikan jembatan “dakwah” agar manusia tetap berjalan secara konsisten dalam fitrahnya (jalan Tuhanya).

  1. Islam sebagai pesan dakwah

Untuk menjaga eksistensinya sebagai makhluk dua dimensi, maka manusia membutuhkan dua hal dasar yang harus dipenuhi yaitu material ( sandang, pangan dan papan) dan spiritual (agama). Agama secara pasti memberikan jawaban atas pertanyaan manusia yang berkaitan dengan ketuhanan, yang dijelaskan dalam ajaran akidah, yang berisi tentang siapa tuhan yang sebenarnya harus disembah. Jawaban tentang rasa sosial manusia dijabarkan dalam ajaran syari’at yang mengatur tentan bagaimana kehidupan manusia bisa berjalan dengan harmonis. Sedangkan pertanyaan tentang etika dijelaskan oleh islam dalam ajaran akhlak, yang mengatur tentang bagaimana manusia berhubungan dengan sesamanya.

  1. Dakwah dan Hidayah

Hidayah merupakan penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan, sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Dalam hal ini hidayah tuhan yang berupa ajaran islam akan sampai kepada manusia itu melalui proses, maka dalam proses inilah dakwah berperan sentral. Sehingga bisa dikatakan bahwa posisi dakwah dalam hal ini adalah upaya atau proses untuk mengajak dan merayu manusia agar kembali atau tetap berada dan meningkatkan fitrahnya, yakni dalam ketuhanan, sosial dan etika yang sesuai dengan ajaran islam sehingga dapat terwujud kehidupan manusia yang khoirul ummah.


Sumber: https://rajasatour.id/torchlight-apk/