PEMBAHASAN IJTIHAD

PEMBAHASAN IJTIHAD

 

PEMBAHASAN IJTIHAD

A. Pengertian Ijtihad dari segi bahasa (etimologi)

Ijtihad berasal dari kata “Ijtahada” artinya bersungguh-sunggguh,rajin, giat. Dengan demikian, menurut bahasa, Ijtihad adalah berusaha atau berupaya dengan sungguh-sungguh.
Menurut Louis Makhluf, Ijtihad berasal dari kata kerja: Jahada, yajhadu, bentuk masdarnya jahdan yang berarti : pengerahan segala kesanggupan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit, atau bisa juga bermakna bersungguh-sungguh dalam bekerja dengan segenap kemampuan.

B. Dari Segi Istilah (Terminologi)

Terdapat beberapa definisi ijtihad, diataranya adalah:
a. Menurut al-‘Amidy : mencurahkan segala kemampuan untuk mencari hukum syara’ yang bersifat zhanny.
b. Menurut Tajuddin Ibnu Subky: pengerahan segala kemampuan seseorang faqih untuk menghasilkan hukum yang zhanny.
c. Menurut Khudhari Bek: pengerahan kemampuan menalar dari seseorang Faqih dalam mencari hukum-hukum syar’i
Dari beberapa definisi ijtihad di atas terlihat adanya persamaan pandangan, bahwa ijtihad adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan energy yang banyak.

Imam al-Ghozaliy, yang diikuti juga oleh Khudloriy mendefinisikan ijtihad dengan “usaha sungguh-sungguh dari seorang mujtahid dengan sungguh-sungguh didalam rangka mengetahui/menetapkan tentang hukum-hukum syari’ah. Ada pula yang mengatakan, Ijtihad itu ialah Qiyas, tetapi oleh Al- Ghozaliy didalam al-mustashfa (II/4 pendapat itu tidak disetujuinya, menurutnya itu keliru, sebab ijtihad itu lebih umum daripada qiyas, sebab kadang-kadang ijtihad itu memandang didalam keumuman. Imam Syafi’i sendiri menyebutkan bahwa dalam arti sempit qiyas itu juga adalah ijtihad.[3] Orang yang berkecimpung di dalam bidang ini dinamakan “mujtahid”

Jadi ijtihad adalah usaha sungguh-sungguh dari seorang mujtahid, untuk menentukan hukum syariat, yang masih Dhanny di dalam Al-Quran dengan syarat-syarat tertentu.

Baca Juga: Nama Bayi Perempuan Islami

Ijtihad dapat berlaku pada

1. Nash yang bersifat zhaniyah, ialah untuk mencari pengertian yang lebih tepat dan lebih kuat menurut pendapat imam mujtahid, namun pengertian yang dimaksud tidak keluar dari kandungan nash itu juga.
2. Pada yang tidak ada nash sama sekali, maka mujtahid berusaha mencari dan meneliti korinah(tanda-tanda) yang menunjukkannya bahwa itulah yang dikehendak syara’.
3. Dengan mempergunakan kaidah-kaidah fiqih dan ini dapat dipergunakan oleh Mujtahid selama belum lagi hukumnya ditetapkan oleh ijma’ dan qiyas.