Pembentukan Sistem

Pembentukan Sistem

Pada mulanya usaha memikirkan rumusan ajaran agama dilakukan oleh individu-individu yang merasa prihatin atas praktek kehidupan, terutama pertikaian politik yang mengancam kesatuan umat. Mereka kebanyakan merupakan orang-orang yang tidak terlibat dalam konflik-konflik politik itu. Dalam perjalanan waktu, individu-individu yang mulai perumusan itu menarik minat orang-orang yang kemudian menjadi kawan atau pengikutnya. Mereka mengembangkan, mengritik dan menyempurnakan pikiran tokoh-tokoh pemikir itu. Dari sinilah muncul mazhab-mazhab yang sebenarnya merupakan perumus sistem-sistem ajaran itu.
Usaha untuk merumuskan ajaran ini sudah dimulai pada masa Bani Umayyah, sebagai semacam kritik atas praktek penyelenggaraan pemerintahan yang dinilai menyimpang dari “jalan keislaman”. Ketika penyimpangan itu semakin terasa, muncullah orang-orang saleh yang berusaha untuk mengembalikan sejarah kepada relnya yang benar. Bagi orang-orang ini, Bani Umayyah hanya menjadikan Islam sebagai stempel. memang benar bahwa warna Islam cukup kelihatan pada tindakan-tindakan Bani Umayyah pada bagian luar, semisal ukuran minimum dalam masalah keyakinan, peribadatan standar dan moralitas elementer; kurang menyentuh bagian terpenting. Mereka mengharapkan Islam memiliki dan melaksanakan ajaran-ajarannya sendiri dalam bidang hukum, keilmuan, etiket, prinsip-prinsip kehidupan pribadi dan tatanan sosial, tanpa merujuk kepada kebiasaan-kebiasaan sebelum Islam.[5]
Pada menjelang masa akhir Bani Umayyah mereka mendapatkan sekutu dari dua kelompok besar anggota masyarakat Islam: (1) orang-orang Arab non Syria yang kurang puas terhadap perlakuan istimewa Bani Umayyah terhadap orang-orang Arab Syria, pendukung utama Bani Umayyah, dan (2) orang-orang Islam non Arab yang dikenal dengan sebutan mawâlî. Dengan ini protes-protes moral kelas ulama ini mendapatkan saluran politik, dan ini menandai keterlibatan mereka secara aktif di bidang ini secara nyata.
Ketika kemudian Bani `Abbâs muncul ke atas panggung kepemimpinan, para ulama ini mendapatkan dukungan dari negara untuk menjalankan program-program mereka dan gerakan perumusan ajaran menjadi lebih besar. Gerakan ini tidak hanya dilakukan oleh mereka yang mendapat dukungan penguasa, melainkan juga mereka yang ada di luarnya. Tidak hanya mereka yang masuk dalam kategori ulama yang berusaha untuk memikirkan dan melakukan perumusan, melainkan juga orang-orang lain yang merasa terpanggil untuk itu, semisal ahli-ahli ilmu pengetahuan umum dan para dokter yang banyak membaca filsafat Yunani kuna dan peninggalan-peninggalan filsafat dari zaman sebelum Islam. Dari gerakan inilah terumuskan sistem-sistem hukum, kalam, filsafat dan sebagainya.

Perjalan berikutnya

Setelah sistem ini terbentuk dalam wujud pemikiran-pemikiran mazhab, saling pengaruh di antara mereka pun terjadi. Ada usaha-usaha untuk mengkonvergensikan beberapa mazhab yang berbeda, namun hasilnya tidak diambil menjadi suatu sistem padu yang menghilangkan mazhab-mazhab. Yang terjadi kemudian adalah pemilihan mazhab tertentu oleh masyarakat, atau penguasa, tertentu untuk dilaksanakan sebagai representasi dari Islam, yang dianggap sebagai ajaran ortodoks. Kekuasaan politik, tradisi tulis dan hegemoni budaya tertentu ikut berperan dalam pemilihan ini.
Setelah pemilihan ini yang menjadi perhatian adalah bagaimana mewariskan ortodoksi itu kepada generasi berikut. Sesuai dengan itu aktivitas pemikiran bukan lagi ditujukan untuk menemukan hal-hal baru atau memecahkan persoalan-persoalan yang sebelumnya belum pernah ada, melainkan kepada pemudahan pewarisan itu. Itu dilakukan dengan membuat ringkasan, penjelasan, kumpulan poin-poin keimanan dan sejenisnya. Tidaklah aneh kalau kemudian orang menyebut tahap ini sebagai tahap kebekuan bagi ortodoksi.
Ketika Islam masuk zaman modern keadaan ini belum berubah sehingga muncul orang-orang yang berusaha untuk memperbaharui rumusan ajaran. Kesulitan utama yang dihadapi para pembaharu itu adalah perlawanan dari para pembela rumusan ajaran lama. yang terakhir ini menganggap rumusan itu sesuatu yang sakral karena berasal dari Tuhan.


Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/