Pemeriksaan Diagnostik

Table of Contents

Pemeriksaan Diagnostik

  1. Sitologi

Pemeriksaan ini yang dikenal sebagai tes papanicolaous (tes PAP) sangat bermanfaat untuk mendeteksi lesi secara dini, tingkat ketelitiannya melebihi 90% bila dilakukan dengan baik. Sitologi adalah cara Skrining sel – sel serviks yang tampak sehat dan tanpa gejala untuk kemudian diseleksi. Kanker hanya dapat didiagnosis secara histologik.

  1. Kolposkopi

Kolposkopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan kolposkopi, suatu alat yang dapat disamakan dengan sebuah mikroskop bertenaga rendah dengan sumber cahaya didalamnya (pembesaran 6 – 40 kali).Kalau pemeriksaan sitologi menilai perubahan morfologi sel – sel yang mengalami eksfoliasi, maka kolposkopi menilai perubahan pola epitel dan vascular serviks yang mencerminkan perubahan biokimia dan perubahan metabolik yang terjadi di jaringan serviks.

  1. Biopsi

Biopsi dilakukan didaerah abnormal jika SSP (sistem saraf pusat) terlihat seluruhnya dengan kolposkopi.Jika SSP tidak terlihat seluruhnya atau hanya terlihat sebagian kelainan didalam kanalis serviskalis tidak dapat dinilai, maka contoh jaringan diambil secara konisasi.Biopsi harus dilakukan dengan tepat dan alat biopsy harus tajam sehingga harus diawetkan dalam larutan formalin 10%.

  1. Konisasi

Konosasi serviks ialah pengeluaran sebagian jaringan serviks sedemikian rupa sehingga yang dikeluarkan berbentuk kerucut ( konus), dengan kanalis servikalis sebagai sumbu kerucut. Untuk tujuan diagnostik, tindakan konisasi selalu dilanjutkan dengan kuretase.Batas jaringan yang dikeluarkan ditentukan dengan pemeriksaan kolposkopi.

Jika karena suatu hal pemeriksaan kolposkopi tidak dapat dilakukan, dapat dilakukan tes Schiller. Pada tes ini digunakan pewarnaan dengan larutan lugol ( yodium 5g, kalium yodida 10g, air 100ml ) dan eksisi dilakukan diluar daerah dengan tes positif ( daerah yang tidak berwarna oleh larutan lugol). Konikasi diagnostik dilakukan pada keadaan-keadaan sebagai berikut :

  1. Proses dicurigai berada di endoserviks.
  2. Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi.
  3. Diagnostik mikroinvasi ditegakkan atas dasar specimen biopsy.
  4. Ada kesenjangan antara hasil sitologi dan histopatologik.

2.4.8   Penatalaksanaan

  1. Irradiasi
  2. Dapat dipakai untuk semua stadium.
  3. Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk.
  4. Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.
  5. Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks.
  6. Komplikasi irradiasi

1)   Kerentanan kandungan kencing

2)   Diarrhea

3)   Perdarahan rectal

4)   Fistula vesico atau rectovaginalis

  1. Operasi

sumber :

 

http://blog.dinamika.ac.id/arya/2020/05/31/seva-mobil-bekas/