PENCAK SILAT ABAD KE-7

PENCAK SILAT ABAD KE-7

PENCAK SILAT ABAD KE-7

PENCAK SILAT ABAD KE-7

Silat dipercaya berkembang di nusantara pada abad ke-7. Awal perkembangannya menyebar dari wilayah suku Melayu secara luas, yaitu dari wilayah Semenanjung Malaka, daerah pesisir pulau Sumatra, hingga Pulau Jawa dan Bali sebelah utara. Dalam periode ini, diduga terdapat pengaruh ilmu beladiri dari China dan India dalam silat. Pasalnya, saat itu kebudayaan Melayu sangat erat kaitannya dengan berbagai budaya baru dari luar seperti Arab, China, Gujarat, Turki dan India.

Para pedagang dari Arab, China, Gujarat dan India tersebut sering berinteraksi dengan orang-orang lokal yang menyebabkan percampuran budaya (asimilasi) terjadi. Dalam kasus ini, silat juga terpengaruh budaya dari luar tersebut. Bahkan beberapa sumber menyebut jika pencak silat adalah bagian dari ilmu bela diri China, “pung ca” dan “si lat”.

Salah satu aliran yang dipercaya sebagai aliran tertua silat di Indonesia adalah Silek Tuo (Silat Minangkabau). Silek Tuo didirikan oleh Datuak Suri Dirajo pada 1119 di daerah Pariangan, Padang panjang, Sumatra Barat. Menurut sejarah, Silek Tuo ini mempunyai kekhasan sendiri dan berbeda dari pencak silat yang biasa dilihat. Seseorang yang menekuni Silek Tuo hingga tinggi, dipercaya bisa mematahkan tulang orang dengan hitungan detik.

Silek Tuo erat kaitannya dengan hal-hal mistik. Dalam perkembangannya, Silek Tuo bahkan bisa mengalahkan seseorang tanpa menyentuh orang tersebut. Silek mulai diminati masyarakat Minangkabau dan mulai muncul macam-macam jenisnya, mulai dari Silek Harimau, Silek Kumango, Silek Langkah 3, Silek Langkah 4 dan Sitaralak.

Beberapa syarat yang harus dipenuhi seseorang jika ingin mempelajarai Silek Tuo yakni ayam, rokok, daun sirih, kain hitam, pisau dan lain-lain. Tetapi dengan berkembangnya jaman dan masuknya agama Islam ke tanah Minangkabau, tradisi-tradisi tersebut mulai ditinggalkan.


Baca Juga :