Penyakit Vibriosis Pada Ikan

Penyakit ikan Vibriosis pada ikan

Penyakit Vibriosis Pada Ikan

Penyakit ikan Vibriosis pada ikan
Penyakit ikan Vibriosis pada ikan

Timbulnya penyakit pada ikan disebabkan karena interaksi antara inang (host), jasad penyebab penyakit dan lingkungan. Dalam interaksi ini faktor lingkungan berperan penting karena dapat menimbulkan pengaruh positif dan negatif terhadap hubungan antara inang dan patogen.

Banyak hal yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit pada ikan, diantaranya karena kondisi perairan yang kurang baik, kualitas pakan yang kurang, maupun kualitas induk yang kurang baik. Selain itu, penggunaan teknik budidaya yang kurang tepat dan kontaminasi dari alat-alat budidaya maupun pekerjanya juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit.

Salah satu golongan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit pada ikan adalah Vibrio sp. Bakteri pathogen golongan Vibrio dapat menyebabkan penyakit berupa Vibriosis serta dapat mengakibatkan kematian pada ikan mencapai lebih dari 80 % pada budidaya ikan di jaring apung. Penyakit Vibriosis menyerang hampir semua jenis ikan laut yang dibudidayakan.

beberapa spesies bakteri seperti Vibrio alginolyticus, V. parahaemolyticus, V. anguilarum, dan V. marimus dilaporkan menyebabakan serangan pada ikan. Bakteri ini bersifat sangat ganas dan berbahaya baik pada budidaya ikan air laut maupun air payau karena dapat menyebabkan pathogen primer dan sekunder.

Penyebab : Vibrio alginolyticus, V. parahaemolyticus, V. vulnificus, V. ordalii, dll.

Bio – Ekologi Patogen

  • Bakteri pada ekosistem air laut, dan vibirosis masih merupakan masalah utama bagi industri budidaya ikan laut.
  • Kasus Vibriosis dapat terjadi sepanjang tahun, namun umumnya terkait dengan stress akibat penanganan, kepadatan tinggi ataupun perubahan cuaca yang ekstrim.
  • Tingkat kematian ikan pada stadia larva hingga ukuran fingerling yang terserang bakteri ini dapat mencapai 80-90%.

Gejala Klinis :

  • Lemah, hilang nafsu makan, berenang di permukaan air, dan warna kulit buram.
  • Inflamasi pada anus, insang, mulut, pangkal sirip, yang diikuti dengan perdarahan dan lepuh pada permukaan tubuh, serta luka terbuka.
  • Pada infeksi lanjut terjadi perdarahan pada mulut dan pangkal sirip, ekses lendir pada insang, dropsy, warna hati pucat. dan mata membengkak.

Diagnosa

  • Isolasi dan identifikasi bakteri melalui uji bio-kimia

Pengendalian :

  • Desinfeksi sarana budidaya sebelum dan selama proses pemeliharaan ikan
  • Pemberian unsur immunostimulan (misalnya penambahan vitamin C pada pakan) secara rutin selama pemeliharaan
  • Menghindari terjadinya stress (fisik, kimia, biologi)
  • Pengelolaan kesehatan ikan secara terpadu (ikan, lingkungan dan patogen)
  • Membatasi dan/atau mengatur pemberian pakan dan mencampur pakan dengan obat-obatan (medicated feed and feed restriction)
  • Melakukan vaksinasi anti vibriosis.

 

Sumber: https://www.semuaikan.com/