Perkembangan dan Pertumbuhan Sosial Anak

Perkembangan dan Pertumbuhan Sosial Anak

Perkembangan dan Pertumbuhan Sosial Anak

Perkembangan dan Pertumbuhan Sosial Anak
Perkembangan dan Pertumbuhan Sosial Anak

Perkembangan dan Pertumbuhan Social Anak Usia Dini

Setiap organisme pasti mengalami peristiwa perkembangaan selama hidupnya. Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada segi material, melainkan pada segi fungsional. Pengertian lain dari perkembangan adalah “perubahan-perubahan yang dialami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau kematangannya (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah).

 

Oemar Hamalik menambahkan bahwa

“perkembangan menunjuk kepada perubahan yang progresif dalam organisme bukan saja perubahan dalam segi fisik (jasmaniah) melainkan juga dalam segi fungsi misalnya kekuatan dan koordinasi”. Dengan demikian berarti kita dapat mengartikan bahwa perkembangan sebagai perubahan kualitatif dari pada fungsi-fungsi. (Ahmad Susanto, 2011 : 19). Pertumbuhan itu sendiri adalah ukuran dan bentuk tubuh atau anggota tubuh. Kata pertumbuhan sering dikaitkan dengan kata perkembangan, ada juga yang mengatakan bahwa pertumbuhan merupakan bagian dari perkembangan.

 

Perkembangan sosial merupakan

Pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral, dan tradisi; meleburkan diri menjadi suatu kesatuan yang saling berkomunikasi dan bekerja sama. Secara potensial (fitrah) menurut Plato, manusia dilahirkan sebagi mahluk sosial (zoon politicon). Namun untuk mewujudkan potensi tersebut ia harus berada dalam interaksi dengan lingkungan manusia-manusia lain.

 

Perkembangan perilaku sosial anak

Teks Editorial – Ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan tidak puas bila tidak bersama teman-temannya. Anak tidak lagi puas bermain sendiri dirumah atau dengan saudara-saudara kandung atau melakukan kegiatan-kegiatan dengan anggota-anggota keluarga. Anak ingin bersama teman-temannya dan akan merasa kesepian serta tidak puas bila tidak bersama teman-temannya. Dua atau tiga teman tidaklah cukup baginya. Anak ingin bersama dengan kelompoknya, karena hanya dengan demikian terdapat cukup teman untuk bermain dan berolah raga, dan dapat memberikan kegembiraan. Sejak anak masuk sekolah sampai masa puber, keinginan untuk bersama dan untuk diterima kelompok menjadi semakin kuat. Hal ini berlaku baik untuk anak laki-laki maupun anak perempuan. (Dadang Gani Ginanjar, 07-12-2012).

 

Makna sosial itu sendiri dapat dipahami

sebagai upaya pengenalan (sosialisasi) anak terhadap orang lain yang ada diluar dirinya dan lingkungannya, serta pengaruh timbale balik dari berbagai segi kehidupan bersama yang mengadakan hubungan satu dengan yang lainnya, baik berbentuk perorangan maupun kelompok. (Ahmad Susanto, 2011 : 134). Perkembangan sosial anak-anak dapat dilihat dari tingkatan kemampuannya dalam berhubungan dengan orang lain dan menjadi anggota masyarakat sosial yang produktif. Hal ini mencakup bagaimana seorang anak belajar untuk memiliki suatu kepercayaan terhadap perilakunya dan hubungan sosialnya. Perkembangan sosial meliputi :

ü  Kompetensi Sosial (kemampuan untuk bermanfaat bagi lingkungan sosialnya);

ü  Kemampuan Sosial(perilaku yang digunakan dalam situasi sosial);

ü  Pengamatan Sosial (memahami pikiran-pikiran, niat, dan perilaku diri sendiri maupun orang lain);

ü  Perilaku Prososial ( sikap berbagi, menolong, bekerjasama, empati, menghibur, meyakinkan, bertahan, dan menguatkan orang lain );

ü  Perolehan nilai dan moral (perkembangan standar untuk memutuskan mana yang benar atau salah, kemampuan untuk memperhatikan keutuhan dan kesejahteraan orang lain). (Sunardi Nur, 2009 : 102).

 

Perkembangan social anak dimulai dari sifat egosentrik

Individual, kearah interaktif komunal. pada mulanya anak bersifat egosentrik, hanya memandang dari satu sisi, yaitu dirinya sendiri. Ia tidak mengerti bahwa orang lain bias berpandangan berbeda dengan dirinya. (Syafaruddin & Herdianto, 2011 : 83). Pada tahun awal perkembangannya, seorang anak mengalami pertumbuhan yang sangat pesat di dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan tentang tahap-tahap perkembangan perilaku dapat menolong kita untuk memahami tindakan setiap anak dan memberikan pengalaman yang akan mendukung perkembangan sosial mereka yang positif. Perkembangan sosial meliputi perubahan peningkatan pengetahuan yang berbentuk spiral tentang dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini dipengaruhi baik oleh pengalaman maupun hubungan sosial anak dengan orang dewasa dalam kehidupannya, dan oleh tingkatan perkembangankognitifnya. Ada 4 aspek kognisi yang berhubungan dengan perkembangan sosial anak :

v  Perpindahan dari sikap egosentris melihat dunia hanya dari sudut pandangnya sendiri ke perkembangan kemampuan untuk memahami bagaimana pikiran/pendapat orang lain dan apa yang dirasakan oleh orang lain;

v  Pertumbuhan dalam kemampuan untuk memahami sebab dan akibat untuk melihat hubungan antra sikap seseorang dan konsekwensi yang harus dipikul;

v  Perubahan dari berpikir konkrit (kamu adalah temanku jika kamu bermain dengan aku) ke pola piker abstrak (kamu adalah temanku walau ketika aku tidak melihat kamu setiap hari, karena kita suka bermain bersama);

v  Perkembangan kognisi yang kompleks, seperti kemapuan untuk memahami hubungan keluarga yang lebih luas (ibu saya adalah seorang ibu, bibi, istri dan juga anak). (Dadang Gani Ginanjar, 07-12-2012).

 

Perkembangan sosial anak sangat tergantung pada individu anak,

Peran orang tua, lingkungan masyarakat dan termasuk sekolah. Kita telah ketahui perkembangan sosial anak ialah bagaimana anak usia dini berinteraksi dengan teman sebayanya atau teman-teman yang lebih tua dari padanya ; terlepas dari betul dan salahnya anak dalam bergaul dengan temannya. Anak yang cerdas, walaupun umurnya 6 tahun, tetapi sudah mampu mengikuti permainan yang membutuhkan strategi berpikir seperti catur. Oleh karena itu biasanya anak yang cerdas lebih suka bermain dengan anak yang usianya lebih tua, sedangkan anak yang kurang cerdas merasa lebih cocok dengan anak yang lebih muda usianya. (Sunardi Nur, 2009 : 102)

 

Perekembangan sosial anak bemula dari semenjak bayi

Sejalan dengan pertumbuhannya badannya, bayi yang telah menjadi anak dan seterusnya menjadi orang dewasa itu, akan mengenal lingkungannya lebih luas, mengenai banyak manusia. Perkenalannya dengan orang lain dimulai dengan mengenal ibunya, kemudian mengenal ayah dan keluarganya. Selanjutnya manusia yang dikenalnya semakin banyak dan amat hitrogen, namun pada umumnya setiap anak akan lebih tertarik kepada teman sebaya yang sama jenis. Anak membentuk kelompok sebaya sebagai dunianya, memahami dunia anak, dan kemudian dunia pergaulan yang lebih luas. Akhirnya manusia mengenal kehidupan bersama, kemudian bermasyarakat atau kehidupan sosial. Dalam perkembangan setiap anak (manusia) akhirnya mengetahui bahwa manusia itu saling membantu dan dibantu, memberi dan diberi. (Sunarto dan Agung Hartono, 2008 : 26-27)