Sejarah pertumbuhan kota

Sejarah pertumbuhan kota

Sejarah pertumbuhan kota

Sejarah pertumbuhan kota
Sejarah pertumbuhan kota

a. Kota yang berasal dari perkebunan, seperti: perkebunan tebu (kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan perkebunan karet (kota di Palembang dan Jambi).
c. Kota yang berasal dari administrasi pemerintahan, seperti: kota pada zaman Islam (Demak, Banten, Cirebon, Solo, Yogyakarta, Makassar, Goa, Palembang, Banjarmasin, dan NAD) dan zaman penjajahan Belanda (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Bukittinggi, Medan, serta Ambon).
d. Kota yang berasal dari pertambangan, seperti: Rejang Lebong (Bengkulu), Singkawang (Kalimantan Barat), Martapura (Kalimantan Selatan), tambang timah di Bangka, Belitung, dan Singkep, di Pulau Jawa, Jati Barang, Cepu, dan Wonokromo, Tarakan dan Balikpapan (Kalimantan).

Pola interaksi wilayah desa dan kota
Interaksi merupakan hubungan timbal balik yang saling berpengaruh antara 2 (dua) wilayah atau lebih yang dapat menimbulkan gejala, kenampakan, dan permasalahan baru. Faktor yang mempengaruhi interaksi antar wilayah antara lain lancarnya transportasi, adanya arus komunikasi, dan adanya informasi. Faktor yang mempengaruhi interaksi desa-kota menurut Edward Ullman yaitu:
a. Adanya wilayah yang saling melengkapi (regional complementary).
b. Adanya kesempatan untuk berintervensi (intervening opportunity). Interaksi dapat juga terjadi karena adanya barang substitusi /pengganti.
c. Adanya kemudahan melakukan perpindahan dalam ruang (transfer ability).

Teori-teori interaksi
Berikut ini beberapa teori interaksi yaitu:
a. Teori Analisis Gravitasi (Gravity Analysis)
Teori ini berawal dari konsep teori Sir Isaac Newton yang diterapkan dalam kajian geografi oleh W.J. Reilly untuk menjelaskan pergerakan penduduk, modal usaha, uang, dan aliran barang dari suatu kota ke kota lain.
Kekuatan interaksi antarwilayah ditentukan oleh jarak antarwilayah dan jumlah penduduk antarwilayah tersebut, tetapi yang paling besar pengaruhnya adalah jumlah penduduk.

b. Teori Titik Henti (Breaking Point Theory)
Titik henti antara 2 (dua) pemukiman (kota) dapat berfungsi untuk membelah penduduk menjadi dua bagian yang menggantungkan diri pada kota yang satu dengan kota yang lain.

c. Teori Analisia Arus
Penentuan batas wilayah secara fungsional didasarkan pada arah dan intensitas arus penduduk sehingga semakin dekat jarak unit/bagian yang satu dengan unit/bagian yang lain arus migrasinya kuat, semakin jauh jaraknya semakin kurang.

Baca Juga :