Sosiologi Pertanian

Sosiologi Pertanian

Sosiologi Pertanian

Sosiologi Pertanian

Pengertian Sosiologi

Sosiologi adalah penelaahan kehidupan manusia secara ilmah yang penelaahannya dipatkan pada kehidupan kelompok tersebut (Horton, 2005). Sedangkan menurut Soekanto (1986) dan Selo Soemardjan (1964) sosiologi adalah ilmu yang

mempelajari pola hubungan manusia dengan kelompok atau antarkelompok manusia baik tentang proses sosial, struktur, maupun perubahan sosial.

 

Sosiologi Pertanian menurut Ulrich Planck

adalah sosiologi yang membahas fenomena sosial dalam bidang ekonomi pertanian. Sosiologi memusatkan hampir semua perhatiannya pada petani dan permasalahan hidup petani. Ruang lingkup sosiologi pertanian meliputi objek sosiologi pedesaaan dan objek sosiologi pertanian.

 

Objek sosiologi pedesaan

adalah seluruh penduduk di pedesaan yang terus-menerus atau sementara tinggal disana (masyarakat pedesaan dan pertanian yang dilihat dari sudut pandang hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat). Objek sosiologi pertanian meliputi keseluruhan penduduk yang bertani tanpa memperhatikan jenis tempat tinggalnya. Tema utama sosiologi pertanian adalah UU Pertanian, orgaisasi sosial pertanian (struktur pertanian), usaha pertanian, bentuk organisasi pertanian, dan masalah sosial pertanian.

 

Pengetahuan mahasiswa Agribisnis

mengenai pertanian sangat perlu dimiliki sebagai pendukung kompetensi mahasiswa tersebut. Latar belakang mahasiswa yang sebagian besar bukan berasal dari lingkungan pertanian menjadikan praktikum di lapangan ini menjadi pengalaman baru dan menarik untuk dikaji secara sosiologi. Dalam praktikum di lapangan ini mahasiswa dapat secara langsung berdialog dengan petani, kelompok tani maupun masyarakat, mengungkapkan permasalahan konkrit yang dihadapi para petani serta mencari solusi yang terbaik. Teori yang diperoleh selama proses pembelanjaran mata kuliah Sosiologi Pertanian telah cukup sebagai dasar bagi mahasiswa untuk memahami dinaika masyarakat pertanian secara faktual. Mahasiswa dapat mengaitkan kajian teoritik dengan fakta di lapangan serta dapat membandingkan keduanya sehingga dapat menarik benang marah dari fakta di lapangan maupun kajian teoritik.

 

Baca Juga Artikel Lainnya: