Syarat Wudhu, Urutan & Hal yang Membatalkan Wudhu

Syarat Wudhu, Urutan & Hal yang Membatalkan Wudhu

Syarat Wudhu, Urutan & Hal yang Membatalkan Wudhu

Syarat Wudhu, Urutan & Hal yang Membatalkan Wudhu
Syarat Wudhu, Urutan & Hal yang Membatalkan Wudhu

Pengertian Wudhu’

Wudhu’ Menurut lughat ( bahasa ), adalah perbuatan menggunakan air pada anggota tubuh tertentu. Dalam istilah syara’ wudhu’ adalah perbuatan tertentu yang dimulai dengan niat, kemudian membasuh muka, kedua tangan, kepala dan kedua kaki dengan air, untuk mensucikan diri kita dari hadats kecil.[1] Dalam QS. Al-Maidah dijelaskan :

“ Hai orang- orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka kalian dan
tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian, dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki.”
Hadits Rasulullah SAW
artinya : Allah tidak menerima shalat seseorang kamu bila Ia berhadats, sampai Ia berwudhu’ “ ( HR Baihaqi, Abu Daud, dan Tirmizi )

Syarat Wudhu

Syarat-syarat Wudhu
ü Islam
ü Mumayyiz,
ü Tidak berhadas besar
ü Dengan menggunakan air suci mensucikan
ü Tidak ada yang menghalangi air sampai ke kulit.

Urutan Wudhu’

a. Niat
b. Membaca bassmallah
c. Memcuci tangan
d. Berkumur-kumur
e. Membersihkan lubang hidung
f. Membasuh Muka
g. Membasuh kedua tangan beserta kedua siku
h. Mengusap kepala beserta daun telinga
i. Membasuh kedua kaki beserta kedua mata kaki
j. Berdo’a sesudah wudhu’
k. Tertip dalam mengerjakan wudhu

Hal-hal yang membatalkan Wudhu’

a. Keluarnya sesuatu dari dua jalan : qubul ( depan) dan dubur ( belakang) dalam kondisi sehat dan tidak sakit, baik benda yang keluar merupakan hal yang lumrah seperti buang air kecil, buang air besar atau yang tidak lumrah seperti kerikil, baik yang keluar berupa najis seperti tinja atau tidak najis seperti kentut.
b. Tidur pulas yang menghilangkan kesadaran disertai ketidakmapanan posisi pantat di atas lantai.
c. Hilang akal , baik karena gila, epilepsy, mabuk, atau dikarenakan mengonsumsikan obat-obatan; sedikit atau banyak, ringan atau berat, dan atau baik dikarenakan posisi pantat menetap di bumi atau tidak. Kelinglungan akibat sebab-sebab di atas melebihi kelinglungan yang diakibatkan oleh tidur, dan ini telah disepakati oleh seluruh ulama.
d. Memegang kemaluan tanpa penghalang.

Sumber: dutadakwah.org